Verdigris.
Jumat, 30 Maret 2012
#1
---
Mungkin,
harusnya ia marah atau bahkan diam saja.
Mungkin.
Seingat
Matthew Oh, tidak ada janji yang diberikan Ayah yang pernah ditepati—memang. Harusnya
ia menyadari dari awal. Benar. Matthew tidak harus berada di Jepang sendirian.
Susun ulang rencana untuk liburan tahun depan. Lebih baik, ia mengusahakan Mr.
Smitthenson untuk ikut, namun membiarkan ia tinggal di tempat lain. Di hotel
yang berbeda dengannya. Misal Matthew berada di Tokyo, perintahkan saja Mr.
Smitthenson pergi ke hotel lain di—bisa jadi Osaka atau Sendai bahkan yang agak
lebih jauh sedikit, di Hokkaido. Sebenarnya pengetahuan Matthew mengenai
kota-kota yang terdapat di Jepang sangat minim. Ia hanya berusaha sok tahu,
kali ini. Seperti biasa.
Di
depan Mr. Smitthenson ia bisa mengomel panjang lebar. Mengutuk-ngutuk
pengawalnya seakan mengikis kesabaran pria tua tersebut. Tapi sekarang, dalam
perjalanannya menuju mobil, Matthew hanya sanggup melihat ke bawah. Searah
langsung dengan layar telepon genggam yang sedang menyala di genggaman sambil
mengetik asal alih-alih menghilangkan depresi. Setelah ini ia akan kisut
setengah mati dibentak oleh ayahnya. Ayahnya yang seorang pengusaha akan
memberikan segalanya pada Matthew asal hal tersebut dapat didapatkan dengan
uang. Dimanjakan. Anehnya, sifat disiplin seorang pengusaha tetap diajarkan
pada anaknya sebagai penerus tunggal perusahaan. Jadi, Matthew akan sering
dimarahi dengan segala kesalahan yang ada termasuk kabur sendirian ke Jepang—ia
mengira.
Tetapi,
bukannya ganjil kalau ayahnya menyusul ke Jepang hanya karena hal ini, lagipula
Matthew sudah izin. Bahkan tidak satu pihak saja pada Ibu, tapi pada ayahnya
juga.
Mobil
sedan hitam mengkilat yang di parkir agak jauh dari taman tempatnya bersantai
barusan menikmati gugurnya sakura 2011 terlihat jelas, bahkan dari jarak yang
lumayan jauh. Matthew mengawasi dari jauh. Memperkirakan kehadiran orangtuanya
di dalam sana. Ia menyipitkan mata berusaha mencari tahu. Kalau-kalau ada bayangan
sepasang manusia muncul, ia bersiap mencari kalimat pembelaan. Walau tetap merasakan
keanehan dengan semuanya. Mungkin ia akan berakhir dengan kalimat pertanyaan ‘ada apa?’ dan sejenisnya.
Mr.
Smitthenson dengan penampilan normalnya, pakaian seragam lengkap, kemeja putih,
jas hitam sekaligus dasi dan terusan senada—pria tua botak beruban itu lari
lebih cepat meraih gagang pintu mobil.
Syukurlah.
Tangan
keriputnya menunjuk ke dalam mobil. Bahasa tubuh mempersilahkan Matthew untuk
masuk pada bangku belakang. Well, tidak ada siapa-siapa. Ternyata Mr.
Smitthenson sendirian. Kenapa tidak bilang daritadi. Tidak perlu membuat
Matthew was-was, bisakan?
“Dimana
ayah dan ibu?” Resonansinya meninggi, tidak ada lagi yang perlu ditakutkan.
Disaat yang sama, segera sang pengawal mengencangkan sabuk pengamannya dan
melirik sedikit ke spion. Terdengar pula suara gas mobil lembut dari dalamnya.
Pak
tua itu diam, “Kita mau kemana?”
Masih
hening.
“Hei!”
Matthew
melempar telapak kakinya ke lantai mobil. Baiklah, rasa kesalnya hilang—sedikit.
Dikarenakan ia lebih baik makan hati terlebih dahulu seperti biasa dengan
kelakuan Mr. Smitthenson yang terkadang ya, ia lebih memilih untuk mendengarkan
ayah. Pasti ini karena ayah, memerintahkannya untuk diam sepanjang Matthew
bertanya. Bilang saja.
Tiga
menit, lima menit, sepuluh menit.
Sebuah
putaran setir mengakhiri perjalanan mereka. Di depan gedung dengan desain biasa
seperti kantor pada umumnya. Matthew belum mau turun sedangkan lagi-lagi Mr.
Smitthenson melakukan kegiatannya berulang untuk membuka pintu untuk Matthew
dan rentak ripitasi memberikan tangannya terulur mengarah ke luar mobil.
Kali
ini Matthew memilih bungkam tanpa banyak bertanya. Meletakkan telepon genggam
di dalam kantung jaket lalu menyisihkan diri keluar dari mobil lewat pintu
sebelah kiri yang langsung mengarah pada pintu masuk gedung. Gedung tinggi yang
mungkin terhitung ada belasan lantai di dalamnya.
Mengikuti
Mr. Smitthenson dari belakang setelah pria tersebut menutup pintu mobil.
Matthew mengerti. Pasti ini tempat dimana ayah berada. Yang ia pikirkan,
mungkin sekarang ayah punya urusan lain mengenai bisnisnya disini. Tetapi apa
urusan anak laki-laki tunggalnya dengan bisnis? Matthew belum bisa diandalkan
sama sekali tentang urusan begini. Jangan salahkan kenapa ia bingung.
“Ibu!”
Langkahnya diperbesar bahkan sanggup menyusul posisi Mr. Smitthenson. Ternyata
ibu telah berada di lobi—ia menunggu. Setelah mencapai ibunya, ia memeluk wanita
bermarga sama dengannya itu, “Ibu tahu kenapa aku dibawa kesini?” Tipikal
manja. Cara bertanyanya pun tidak sesuai dengan genitasnya sebagai seorang laki-laki
dengan usia remaja.
Tubuhnya
masih terbalut tangan ibu, “it seems your dad hiding something, eh?” Refleks
pria dalam konversasi mengangguk.
“Ibu
saja yang beritahu,” Ucap wanita paruh baya dengan dandanan berlebihan di
hadapannya, “Tapi kalau ayah datang, Matt harus berakting tidak tahu apa-apa,
ya?” Sekali lagi, Matthew mengangguk—payah, dengan gayanya yang manja, “Ikut
ibu.” Dan ya, Mr. Smitthenson mengikuti dari belakang.
Gedung
besar tersebut menjadi tanda tanya besar bagi Matthew. Apa ini? Untuk apa ini? Dan
yang terpenting, apa hubungannya dengan dirinya?
Sadarkah,
setelah ia menjadi murid Beauxbatons Academy dan keluar dari sana untuk
liburan, keluarganya terlihat lebih aneh. Merasa?
Badannya
menempel pada sang ibu. Matthew mencintai ibu lebih dari apapun. Bahkan,
setelah usahanya kabur ke Jepang malah tertangkap seperti ini, bisa ia lupakan
seketika hanya dengan elusan dari sang ibu. Bocah.
Namun ia tidak terlalu memperdulikan hal yang ia lakukan pada ibunya di depan
banyak orang. Seperti biasa, ia cuek. Lagipula beberapa orang yang dilihatnya
bahkan yang saling mengawasi dengan Matthew lagaknya mirip dengan anak buah
ayah di kantor Korea. Memberikannya sedikit kode.
“Kantor
ini punya ayah, Bu?”
“Na-ah.”
Gelengan yang ia dapatkan.
Terakhir,
langkah mereka sama-sama terhenti di sebuah pintu besar yang di dalamnya
tergambar sebuah ruangan luas dengan ornamen kaca ukiran. Ibunya melepas
pegangan erat Matthew dengan lembut lalu perlahan membuka lebar pintu tersebut.
Percaya
atau tidak, ruangan itu tidak berisi sesuatu yang istimewa. Hanya beberapa sofa
berjajar, sebuah bendera jepang di belakang meja kerja dan kursi hitam
bersandar dari kulit. Kaca-kaca besar dua kali tinggi Matthew sebagai jendela
dan ornamen wallpaper ukiran-ukiran bunga pada dindingnya. Warna monoton putih
dan hitam mendominasi. Biasa bukan.
Ibu
menariknya masuk ke dalam, duduk di sofa lembut seperti di rumah dan menutup pintunya
lagi-lagi dengan lembut.
Heran,
ibu masih bisa bilang ini bukan kantor milik ayah sedangkan mereka dengan
santainya masuk ke dalam ruangan yang sepertinya menjadi ruangan utama dalam
gedung tersebut. Ruangan teristimewa sepanjang Matthew berkeliling.
“Perusahaan
ini bergerak di bidang pendidikan.” Ibunya memulai dengan rentak duduknya
bersebelahan dengan Matthew. Sekarang yang berkromosom XY satu-satunya merasa
pembicaraan ini mulai serius. Ibu memulai kisahnya, “Ya, ibu tidak tahu jelas
sih masalah begini—“ jeda, Ibu memainkan jemarinya sambil bergantian melirik
pada Matthew lalu jendela ke luar, “—tapi yang ibu dengar dari ayah, tugasmu
hanya untuk mengatur ini-itu. Pokoknya ibu tidak mengerti jelas.”
“Hah?”
Suaranya
tersendat, “tugasku?”
“I-iya.”
Ibu
pasti bercanda, ia tahu pasti ibunya suka bermain-main. Memutuskan untuk
mengabaikan pernyataan tersebut. Selanjutnya—“kenapa bisa duduk santai disini,
kalau bukan kantor ayah—jadi gedung ini milik siapa?”
...
“Milikmu,
nak.” Mr.
Smitthenson mengangguk dari sudut lain ruangan dan menyembunyikan sebuah
seringai.
Oh, sial.
